« Home | feel like hell...! » | WAJAH INDONESIA TERKINITerkuak pula kenyataan bahw... » | THIS IS OFF THE RECORDgaji naik. walau dikit. disy... » | selalu saja seperti ini.persis seperti malam itu ... » | APA YA JAWABNYA?How is it that we put man on the m... » | tiba-tiba saya ga pengen pake hape.gara-gara baca ... » | ada seekor naga kecil didalam kepalaku. warnanya m... » | meski telat: gw pengen mengucapkan selamat ulang t... » | apa sih definisinya ' menikah'? » | BEDSHAPED - KEANEMany's the time I ran with you do... »

Ketika Langit dan Bumi bersatu ...

WS. Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan pada ku ?. Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?.
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini ?.
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?.
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?.

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai
ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas,dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

Langit di luar, langit di badan, bersatu dalam jiwa. Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan, sama saja.