« Home | Tree Bila kita menamam durian tentu akan berb... » | Bila aku hanya bisa menulis puisi, maukah kamu men... » | Libur. Malam ini balik ke Malang. 3 hari. Offline... » | Billy The Kid Alkisah, ada 3 orang Cina sedang be... » | Mencintai Orang yang Spesial Sangatlah menyakitkan... » | Monyet: Ga bisa bobo... Dingin banget. Wis pake sw... » | IF O, mawar yang kutanam setahun lalu telah ... » | At My Most Beautiful I've found a way to make you... » | JALAN Kita ga bakal tau sampai mana ujung jalan in... » | AYO CEKOLAH...! TAPI KOK MAHAL? Many students, es... »

Right or Wrong
Perayaan adalah sebuah euforia. Keramaian yang meledak-ledak. Bercahaya warna-warni. Makanan berlebih. Pesta yang memabukkan. Pesta yang ducapkan dengan lantang melalui bibir berlipstik merah tebal. Tapi euforia hanyalah sekejap malam. Besok, tatkala matahari meninggi orang-orang harus bekerja. Membenahi nasibnya yang terbengkalai. Berjubelan di atas angkutan umum. Menjadi sekrup-sekrup mesin raksasa bernama kapitalisme. Antri beras. Anak-anak sekolah belajar di kelas yang hampir ambruk. Sementara para koruptor pun harus kembali bekerja pula. Menghisap dan menghisap. Di billboard berukuran besar masih terang terbaca: DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE-59. A celebration of the nation?
Sedang aku tak kemana-mana. Tak paham, maybe I don't really care, apa guna semua ini. Merayakan untuk apa? Siapa pahlawanku? Aku melihat sejarah adalah tipu muslihat belaka. Dimana Pancasila yang sakti jika pembunuhan, permusuhan dan rasisme adalah tontonan televisi sehari-hari? Siapa yang Merdeka? Merdeka dari apa?
Ini adalah nasionalisme.
Right or wrong is my country.

Bagiku: right or wrong ya wright or wrong dong....
I still don't get it. Do you?