« Home | Bila aku hanya bisa menulis puisi, maukah kamu men... » | Libur. Malam ini balik ke Malang. 3 hari. Offline... » | Billy The Kid Alkisah, ada 3 orang Cina sedang be... » | Mencintai Orang yang Spesial Sangatlah menyakitkan... » | Monyet: Ga bisa bobo... Dingin banget. Wis pake sw... » | IF O, mawar yang kutanam setahun lalu telah ... » | At My Most Beautiful I've found a way to make you... » | JALAN Kita ga bakal tau sampai mana ujung jalan in... » | AYO CEKOLAH...! TAPI KOK MAHAL? Many students, es... » | someday: maybe: gw pengen menjadi petani pagi b... »

Tree

Bila kita menamam durian tentu akan berbuah durian. Tidak mungkin kita menanam durian berbuah kelapa. -- Romo Mangunwijaya -

Adakah yang dapat menggantikan? Daun-daun yang keemasan tertimpa matahari yang bangun dari lelapnya. Adakah yang dapat menggantikan? Sebentuk embun yang melompat perlahan-lahan dari pucuk-pucuk hijau dan jatuh di sepatu sekolah anak-anak. Adakah yang dapat membelikan? Kenangan ketika kita bersandar di pokok Pinus dan percakapan burung-burung tentang suara hujan kemarin sore.
Tidak ada yang dapat menggantikan. Bila pohon-pohon dirubuhkan dan pokok-pokok beton berakar baja tanpa kambium kemudian berjejal. Bila daun-daun itu disihir menjadi plastik dengan pendar spotlight elektrik. Bila semilir angin yang berlarian disela-sela ranting-ranting digantikan mesin pendingin.
Tak akan terdengar lagi denting-denting hujan yang menyelinap diantara mahoni, randu dan cemara. Pohon-pohon itu telah dikalahkan. Bukan oleh gergaji mesin dan bulldozer tetapi oleh ketamakan. Ketamakan yang berpikir dapat membeli semuanya dengan uang. Ketamakan yang tak pernah menaman pohon. Tak pernah bersintuhan dengan kulit batang kayu. Ketamakan yang seolah-olah merupa menjadi modernitas. Dan modernitas inilah yang telah menghilangkan pesona dunia, the disenchantment of the world.
Di Bumi Tanjung, di Jalan Veteran, mungkin sejak ribuan tahun silam, pohon-pohon itu tidak ditumbuhkan untuk mengundang keserakahan. Dan bukankah di sana telah dipasang tanda: tinggalkan hanya jejak, ambilah hanya gambar. Mengapa kau ambil juga lapangan bola sekaligus derai keriangan kami, air yang melekat di akar-akar, capung warna-warni, kumbang berpunggung merah hitam, oksigen yang sebenarnya juga kau hirup saat kelelahan bersenggama dengan istrimu.
Kau berkata: Aku tidak mengambilnya. Aku akan menggantikannya dengan supermarket berkilau. Dengan rumah-rumah yang mungkin hanya ada dalam cerita-cerita dongeng kalian. Paling tidak, kalian boleh menjadi pembantu-pembantu. Dibutuhkan 5000 orang untuk membersihkan sisa makanan, bekas berak dan mengangkat tong-tong sampah. Dan jelas, kalian butuh pekerjaan bukan? Soal pohon-pohon itu? Ah, kalian ini terlalu romantis. Mengada-ada. Tak bisa berlogika. Coba kalian pikir: Apakah kenangan dan cinta bisa menghentikan rasa lapar?
Kami berkata: Kau memang tidak mengambil. Tetapi merampoknya. Meluluhlantakkannya hanya dalam satu malam. Itu saja. Kami menangis. Tapi kami tidak kalah. Manusia bisa dihancurkan tetapi tidak bisa dikalahkan. Oleh ketamakan yang dipersenjatai seribu kilogram bom nuklir sekalipun. Pohon-pohon kami akan tetap abadi. Musim berlalu musim. Sebab mereka tumbuh di hati kami.

-- untuk ruang terbuka hijau, hutan kota Malang di Jl. Tanjung dan Jl. Veteran yang telah dialihfungsikan (secara paksa dan vulgar) menjadi kawasan perumahan mewah dan hypermarket bernama malang town square (matos) --.