« Home | BROKEN LIONHEART "Kita Dirampok! Inggris kalah, ka... » | "Dingin Tak Tercatat" Dingin tak tercatat pada te... » | REFUGE ref·uge ( P ) Pronunciation Key (rfyj)... » | Lowongan kerja dari Belanda PENGOEMOEMAN !!! DA... » | WORLD ENVIRONMENT DAY Hari ini kan hari lingkunga... » | L.I.A.M. Gw pengen anak gw nanti, entah itu laki-... » | June 4, 1989: China's Dark Hours In the tense earl... » | Tiananmen Square, 4 Juni 1989 apakah gambar ini b... » | HUMAN VS MACHINE ternyata: blog gw diblokir gara2 ... » | network admin gw payah neh.. masa blog gw di-bloki... »

Handphone

ADA seorang bintang film yang dapat tawaran dari kakaknya: Di hari ulangtahunmu, kamu mau dapat handphone atau mau umroh?

Handphone atau umroh. Dua hal yang berbeda. Yang satu sebuah perkakas, yang lain sebuah ibadah. Tetapi keduanya dapat dijadikan hadiah ulangtahun, karena keduanya, di jaman kita ini, sudah jadi komoditi. Telepon genggam itu diproduksi secara massal, dihitung beaya pembuatan dan pemasarannya, dan diberi harga. Umroh kini merupakan soal tiket pesawat, uang fiskal, ongkos penginapan, dan hal-hal lain yang tak banyak berbeda dengan perjalanan ke luar negeri lain. Bagaimana kegunaan telepon genggam itu buat diri si bintang film dan bagaimana arti umroh itu bagi dirinya, memang penting, tetapi di luar percaturan. Nilai guna, sesuatu yang kongkret dan bersifat individual, telah berubah menjadi nilai tukar, sesuatu yang akhirnya bisa diterjemahkan dalam angka-angka uang.

Pasar sibuk karena di sanalah komoditi digelar, dan saling menyediakan diri untuk dibandingkan. Handphone dan umroh: keduanya -- dua hal yang amat berbeda -- ternyata bisa dipertukarkan.

Tidak berarti bahwa dengan demikian orang-orang yang pergi ke Mekkah, ketika melakukan tawaf di sekeliling Kaabah dan berlari-lari, dalam sai, antara dua bukit kecil (kini praktis telah sepenuhnya simbolis), dan ketika mereka bersujud di depan Allah di Masjidil Haram -- semua itu berlangsung tanpa sesuatu yang bisa menggetarkan, sesuatu yang punya suasana religius yang dalam. Ibadah tidak dengan sendirinya menjadi sesuatu yang profan hanya karena pengurusannya telah jadi bagian dari kegiatan perdagangan. Kapitalisme tidak serta merta mematikan batin sebuah ritual.

Tidak berarti pula bahwa si kakak yang menawarkan hadiah berupa handphoneatau umroh itu telah menganggap sebuah kegiatan ibadah (perhubungan dengan Tuhan) sebagai sesuatu yang sama dengan keasyikan bercengkerma, bergosip, mungkin bertengkar, antara manusia satu dan manusia lain, lewat sebuah teknologi yang canggih. Tidak. Lahirnya pasar, terjadinya komodifikasi, hanya memberikan indikasi, bahwa sejumlah benda atau kegiatan tertentu tidak tersedia bagi setiap orang -- seperti angin di udara tersedia bagi siapa saja, setiap orang -- dan karena itu orang harus membayar, dan ada pihak yang menerima bayar. Dalam komunikasi itu, antara yang berbelanja dan yang menjual, Tuhan acapkali tidak diingat lagi. Juga hal-hal kongkrit (termasuk cinta, terharu, kangen, marah) yang terjadi antar manusia tidak diasumsikan perlu dan bisa terjadi. Si pemilik toko telepon katakanlah berangkat ke Mekkah, dan si pemilik biro perjalanan yang menjual paket umroh katakanlah membeli handphone, tapi keduanya tidak perlu kontak langsung. Kadang-kadang kapitalisme memang mirip kesepian, di mana orang berdiri sendiri-sendiri, dan yang menghubungkan antar mereka adalah kepentingan.

Barangkali itu sebabnya sekarang -- ketika kapitalisme begitu riuh rendah -- orang memerlukan handphone dan umroh. Orang mulai gelisah dalam ruang sendiri-sendiri.

Agama, kata Eric Gellner, adalah a celebration of community. Mereka yang punya kecenderungan untuk menjadi sufi mungkin akan merengut atau kecewa, tetapi coba lihat ke sekeliling kita: orang ramai berbuka puasa bersama, shalat terawih bersama, naik haji bersama, umroh bersama...Berjemaah memang bisa meningkatkan nilai ibadah, dan sekaligus juga memberikan semacam suasana lindung, yang protektif, bagi jiwa yang mulai hidup dalam komunitas yang retak-retak oleh kapitalisme. Tidakkah ini menjelaskan, bahwa modernisasi kapitalis, yang pernah diduga akan menyebabkan terlepasnya manusia dari haribaan tradisi, mitos dan agama, kemudian ternyata menunjukkan gejala yang sebaliknya? Di zaman ini, yang pergi beribadah tidak hanya kalangan santri yang tradisionil, yang pergi haji tidak hanya orang-orang berada dari Lawiyan dan Pekajangan (untuk menyebut dua daerah kaum bazaari di Jawa Tengah). Kini hampir semua lapisan, horisontal ataupun vertikal, bicara soal ONH dan ONH Plus. Dengan cepat kita melihat suatu lapisan masyarakat yang mampu yang juga muslimin: sebuah pasar luas tercipta. Sebuah kekuatan tersendiri, tentu. Maka jangan takjub bila label halal menjadi penting buat bahan pangan. Bahkan ada real estate khusus untuk orang Islam. Jangan heran pula bila paket umroh juga jadi bidang investasi yang baik. Seperti halnya perdagangan telepon genggam.

Sebab kaum burjuasi atas di kota-kota memang kian membutuhkan benda yang mirip uleg-uleg penggerus sambal ini, yang bisa ditaruh dalam saku dan dibawa ke mana saja -- -- sesuai dengan kebutuhan untuk komunikasi cepat dan meningkatnya kesejahteraan orang ramai, yang juga berarti kongesti. Handphone hampir menjadi semacam alat vital di dalam lalulintas yang macet.

Memang ada yang memegangnya untuk hal-hal yang tak ada hubungannya dengan percepatan. Ada yang menganggapnya semacam mainan, atau bahkan asesori. Tentu saja hasilnya tetap: komunikasi memang bisa jadi lancar, meskipun manusia tidak dengan sendirinya menjadi lebih efisien atau hangat atau sopan. Ada seorang teman yang pernah melihat adegan ini: empat orang masuk ke sebuah restoran. Business lunch, tentu. Tapi begitu mereka duduk di satu meja, mereka mulai membuka handphone mereka masing-masing, dan pembicaraan pun terjadi. Tidak di antara orang berempat itu.

Handphone atau umroh. Bahwa kedua hal itu ditawarkan sebagai pilihan untuk hadiah ulangtahun, menunjukkan bahwa kedua hal itu sama-sama berharga. Itu berarti juga: apabila mungkin, orang akan menginginkan memiliki kedua-duanya sekaligus.

Cllifford Geertz mengamati masyarakat Islam di Maroko dan Indonesia dan dalam Islam Observed ia menyebut sebuah gejala, yakni moral double book-keeping. Ada yang menguraikan bahwa gejala pembukuan ganda dalam hal moral ini umum terjadi di masyarakat-masyarakat tradisional yang bertemu dengan arus modernisasi yang tak bisa dielakkan. Di satu sisi, kita menyimpan impian dan rencana kita untuk jadi bagian dari sebuah ruang global yang modern -- dan modernisasi ibarat zat pelarut universal. Di sisi lain, kita menyimpan rasa cemas kita kalau-kalau kita kehilangan apa yang dulu kita miliki, sesuatu yang sering disebut sebagai identitas. Identitas itu mugkin hanya sebuah gardu yang kita konstruksikan untuk tempat kita berteduh, tetapi ia cenderung menampakkan warna yang keras, berteriak, ketika kita kian merasa terancam kehilangan.

Maka kita punya handphone, dan kita pergi umroh, terkadang kita tidak tahu lagi siapa gerangan yang sesungguhnya kita ingin ajak bicara: Tuhan atau manusia.